Infrastruktur Telekomunikasi
Jaringan Broadband Penting untuk Daya Saing
Indonesia mampu mengejar ketinggalan bila jaringan backbone Palapa Ring segera terealisir
Rabu, 14 Oktober 2009, 13:05 WIB
Muhammad Firman, Indra Darmawan
Palapa Ring (Mastel)

VIVAnews - Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU), ternyata tingkat daya saing Indonesia di bidang teknologi informasi tahun 2009 mengalami penurunan.

Dari hasil penelitian terungkap pula bahwa titik lemah daya saing TI Indonesia terletak di bidang R&D (dengan skor 2)  dan infrastruktur (dengan skor 5).

Menurut Direktur Software Policy BSA Asia Pasifik Claro Parlade, jaringan pita lebar (broadband) merupakan faktor penting bagi daya saing TI.

“Tanpa keberadaan jaringan broadband, kesenjangan daya saing TI antara negara berkembang dengan negara maju akan semakin lebar,” ucapnya kepada wartawan di Hotel Sultan Jakarta, 14 Oktober 2009.

Padahal, kata Parlede, dalam kondisi ekonomi saat ini, sangat penting bagi pemerintah Indonesia untuk terus mendorong pertumbuhan sektor teknologi informasi sebagai penggerak utama kemajuan ekonomi.

“Sangat penting bagi pemerintah untuk mendukung inovasi dan mengambil langkah untuk merangsang hasil sektor teknologi yang membantu menarik minat investor dan mempercepat pemulihan ekonomi,” kata Parlade.    

Sementara Dony Sheyoputra, perwakilan BSA Indonesia menilai, Indonesia selama ini hanya menjadi pasar belum menjadi pemain di bidang TI.

“Peningkatan jumlah pemakai Blackberry hanya mengindikasikan peningkatan pemakai Facebook, namun bukan peningkatan kreativitas dan inovasi di bidang TI,” kata Donny.

Selain itu, pertumbuhan kecepatan penetrasi koneksi broadband dan komputer di Indonesia pun, walaupun ada tidak mampu mengimbangi negara-negara maju yang penetrasi komputernya tumbuh hingga  60-85 persen dari total populasi.

Lebih jauh, Donny mengatakan bahwa Indonesia akan mampu mengejar ketinggalan ini bila jaringan backbone Palapa Ring segera terealisir.

Hingga kini proyek backbone yang akan menyentuh bagian Indonesia Timur itu masih terkatung-katung akibat mundurnya beberapa anggota konsorsium karena krisis ekonomi.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.


BERITA TEKNOLOGI TERPOPULER