Di Second Life, pengguna bisa mempelajari ruang operasi sebelum praktek di dunia nyata.
|
|
(doc Corbis) |
|
VIVAnews - Dokter dan para ahli bedah menggunakan situs jejaring sosial Second Life untuk melatih kemampuan para anak didiknya.
Situs online 3 dimensi itu dimanfaatkan untuk mensimulasikan kondisi krisis secara nyata seperti yang terjadi di ruang operasi.
Di Second Life, Imperial College London telah membangun sebuah rumah sakit virtual di mana pelajar bisa mempelajari seputar rumah sakit dan ruang operasi sebelum mereka mulai melakukan aktivitas secara nyata. Mereka kemudian dapat menguji coba pengetahuan mereka di Virtual Respiratory Ward dengan menginterview pasien yang umumnya merupakan profesor atau relawan yang memberikan resep, tes kesehatan, diagnosa penyakit dan merekomendasikan pengobatan.
Menggunakan software yang dibuat oleh para programmer asal San Jose State University, para pelajar dapat memanfaatkan Heart Murmur Sim, yang memungkinkan mereka mendengarkan suara jantung sebenarnya, melatih mereka untuk mendengarkan suara dari dada pasien dan mengidentifikasi detak jantung. Pelajar memakai heads-up display serupa yang digunakan oleh pilot yang menunjukkan data seperti tekanan darah pasien, denyut jantung, dan rekam medis pasien. Pelajar juga bisa mengklik sebuah obyek seperti rak obat-obatan atau pompa infus.
Ketika objek di-klik, maka heads-up display lainnya akan muncul dan memungkinkan pelajar untuk memilih, sebagai contoh, obat-obatan tertentu, dosisi, dan bagaimana penanganannya.
Avatar pasien juga akan bereaksi secara realistis. Sebagai contoh, jika seorang siswa memberikan nitrogliserin pada seorang pasien, maka tekanan darah pada avatar sang pasien akan menurun dan ia akan mengalami shock.
• VIVAnews