|
VIVAnews - Komisi Pemilu Umum akan memindahkan pusat tabulasi pemilihan umum presidensial dari Hotel Borobudur ke kantor KPU di Jl Imam Bonjol Menteng Jakarta Pusat. Demikan dikatakan oleh Anggota KPU Abdul Aziz.
"Tabulasi pilpres itu tetap akan ada, tapi tidak dilakukan di Hotel Borobudur sebagaimana pemilu legislatif, melainkan dilakukan di KPU," ujar Abdul Aziz, Rabu 1 Juli 2009.
Selanjutnya, penayanangan hasil pemilu akan dilakukan di website KPU. Selain dapat mengaksesnya lewat internet, masyarakat juga boleh mengakses di media centre. Bahkan, kata Abdul Aziz, KPU juga menyiapkan hasil pemilu yang bisa di-link ke media online.
Untuk tabulasi elektronik, KPU akan memanfaatkan teknologi pesan pendek (SMS). Teknologi SMS itu, perangkatnya merupakan dukungan dari International Foundation of Electoral System (IFES), sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Washington.
Mekanismenya, pengiriman data hasil pemilu, dilakukan oleh ketua-ketua KPPS dari tiap TPS, melalui SMS. Di seluruh Indonesia, terdapat 450 ribu TPS. Oleh karenanya, sebanyak 450 ribu nomor telepon yang digunakan untuk mengirim data, akan diformat khusus.
"Setiap nomor disetel hanya dapat mengirimkan pesan maksimal 10 kali," kata Abdul Aziz. Oleh karenanya bila ada kesalahan hanya dimungkinkan beberapa kali koreksi. "Tapi tidak mungkin kesalahan dari TPS sampai 10 kali," dia menambahkan.
Menurut Abdul Aziz, KPU dan IFES akan menggunakan jaringan Telkomsel, sehingga tak akan menjangkau seluruh bagian Indonesia. "Jangkauannya seluas jangkauan Telkomsel dan tidak menjangkau seluruh Indonesia," katanya. Jaringan Telkomsel sendiri, diperkirakan menjangkau sekitar 95 persen dari seluruh wilayah Indonesia.
Teknologi SMS sendiri sebenarnya sudah ditawarkan kepada KPU sejak pemilu legislatif yang lalu. Namun, KPU lebih memilih teknolog Intelligent Character Recognition (ICR). Namun, hasilnya ternyata sangat mengecewakan.
Sementara, SMS merupakan teknologi yang relatif lebih simpel dan efisien. Teknologi ini juga digunakan oleh berbagai lembaga survei saat melakukan penghitungan cepat (quick count).
"SMS bisa memotong jalur penyampaian data dari hulu ke hilir secara efisien. Selain itu, SMS adalah teknologi yang mudah, diakses luas oleh banyak orang, serta proses coding yang relatif mudah," ujar Eko P Galan T, Manajer Data Cirus Surveyor Group, salah satu lembaga yang melakukan quick count pada pemilu legislatif lalu.