Infrastruktur Telekomunikasi
Investasi HSPA+ Harusnya Murah
Untuk HSPA+, operator cukup mengupdate fitur software pada infrastruktur yang sudah ada.
Kamis, 12 November 2009, 11:10 WIB
Muhammad Firman, Muhammad Chandrataruna
  (panoramio.com)

VIVAnews - Dalam evolusinya menuju LTE (long term evolution) atau teknologi radio generasi keempat (4G), istilah HSPA+ (High Speed Packet Access Plus) memang sudah tidak asing. Pasalnya, untuk sampai ke gerbang 4G, para penyelenggara telekomunikasi memang harus melewati fase tersebut setelah stage 3G HSDPA/HSUPA.

Asosiasi GSM Dunia (GSM Association) menilai adopsi HSPA+ di negara-negara berkembang cukup penting untuk mengantisipasi LTE dalam waktu dekat. Di Indonesia, di mana pengembangan HSPA+ baru dimulai, diperkirakan layanan baru akan memasyarakat pada 2-3 tahun mendatang.

“Supaya tidak terlambat nantinya, infrastruktur untuk HSPA+ perlu dibangun mulai sekarang. Karena, perlahan-lahan kapasitas dan kecepatan jaringan perangkat bergerak semakin padat. Bahkan, dari waktu ke waktu pertumbuhannya sangat pesat,” kata Jaikishan Rajaraman, Senior Director of Services GSMA, di sela jumpa pers GSMA, 12 November 2009.

Seperti diketahui, dengan HSPA+ kecepatan akses jaringan dapat diupgrade hingga 21Mbps. Bandingkan dengan HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) yang hanya mencapai 14,4Mbps.

Untuk mengupgrade teknologi 3G HSDPA/HSUPA menuju HSPA+, menurut Rajaraman, penyelenggara telekomunikasi tidak lagi membutuhkan kocek investasi yang besar. Pasalnya, untuk teknologi HSPA+, operator telekomunikasi cukup mengupdate fitur software pada infrastruktur yang sudah ada sekaligus menambah satu kanal baru.

“Upgrade 3G ke HSPA+ tidak harus mengganti vendor. Tidak mengganti vendor pun tidak apa-apa. Sebab, alat untuk HSPA+ sudah ada di Node B. Lagi pula, antarvendor kini sudah interoperabilitas, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Rajaraman.

“Operator hanya perlu membayar lisensi tambahan ke vendor untuk kemudian diinstal software-nya,” ucapnyaa.

Di Indonesia, operator 3G yang menyatakan siap untuk mengimplementasikan HSPA+ baru Telkomsel dan Indosat. Telkomsel mengalokasikan belanja modal yang sangat besar, sampai Rp 1,3 trilun untuk meng-upgrade HSPA+ dengan perangkat Huawei.

Indosat sendiri belum menyebutkan angka investasinya karena mereka baru sebatas menguji coba perangkat milik Ericsson.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.