Ada baiknya operator memaksimalkan dulu perangkat yang sudah dimiliki sekarang ini.
|
|
(panoramio.com) |
|
VIVAnews - Memasuki babak baru layanan data bergerak ke arah LTE (long term evolution) untuk layanan selular GSM, sejumlah operator telekomunikasi mulai secara perlahan-lahan mengupgrade jaringan 3G-nya.
Salah satunya, Telkomsel, yang tengah mengadopsi teknologi HSPA+ untuk jaringan 3G-nya. Namun, kabarnya anak perusahaan BUMN Telkom itu merogoh kocek investasi cukup besar untuk mengupgrade seluruh jaringan node B-nya menjadi HSPA+, yakni sebesar 1,3 triliun rupiah.
Kemungkinan besar, kocek dalam jumlah besar itu disebabkan karena Telkomsel menunjuk jaringan yang berbeda dengan vendor jaringan 3G sebelumnya. Untuk teknologi HSPA+, Telkomsel kepincut untuk menggunakan perangkat milik Huawei.
Hal ini sempat menuai kritik dari beberapa pihak, Ketua Bidang Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Eka Indarto salah satunya. Ia mengatakan, operator telekomunikasi sepantasnya mempelajari kebutuhannya dulu di pasar, sehingga tidak menimbulkan kesan tergesa-gesa.
“Jaringan berbasis 3.5G yang ada sekarang ini sebenarnya sudah mencukupi,” kata Eka saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon di Jakarta, 9 November 2009.
“Ada baiknya, mereka memaksimalkan dulu perangkat yang ada sekarang ini, tidak perlu jor-joran seperti itu. Daripada tergesa-gesa membeli perangkat yang sangat mahal, lebih baik Telkomsel melakukan audit perangkat terlebih dahulu,” ucap Eka.
Eka juga mempertanyakan jika langkah Telkomsel ini berdampak pada pergantian vendor secara menyeluruh. “Dari sisi teknologi, sangat tak wajar bila sebuah operator telekomunikasi dan internet mengganti secara total vendor,” ucapnya. “Pasalnya, kompatibilitas dan kesiapan teknisnya kerap terganggu. Ujung-ujungnya, pelanggan dirugikan karena layanan untuk mereka bisa jadi akan terganggu,” jelas Eka.
Selain itu, Eka juga menuturkan, HSPA+ mungkin belum akan maksimal bagi pelanggan. Masalahnya, meski kemampuan jaringan bisa saja di-upgrade mencapai 21Mbps, kebanyakan perangkat yang ada di pasaran belum mampu mendukung.
Keterbatasan itu antara lain di sisi terminal modem, jangkauan Node B, traffic control di Packet Core Network, Extended QoS profile di HLR, dan bandwidth limitation RNC ke Node B. “Saya sangat khawatir jika investasi yang luar biasa besar itu akan mubazir,” ucap Eka.
• VIVAnews